PEREKONOMIAN EMPAT
SEKTOR
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Makroekonomi
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Makroekonomi
Dosen Pengampu : Annas Malik S.EI., M.Sy.
Disusun
oleh:
Tri
Juliya Utari 1651010272
Kelas C Semester III
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
UIN RADEN INTAN LAMPUNG
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur
penulis haturkan kepada
Allah swt, atas rahmat dan hidayah nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Perekonomian Empat Sektor”
Sholawat serta salam tak lupa kita
haturkan kepada junjungan
kita nabi Muhammad SAW, yang
syafaatnya
kita nantikan di yaumul qiyamah.
Kami menyadari makalah ini masih
sangat jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kami megharapkan kritik dan saran
yang membangun dari pembaca demi pemyempurnaan makalah ini. semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembaca.
Bandar
Lampung, November 2017
Penyusun
DAFTAR
ISI
COVER ......................................................................................................
KATA PENGANTAR.............................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
·
Latar Belakang ................................................................................ 1
·
Rumusan Masalah............................................................................
1
·
Tujuan..............................................................................................
1
BAB II PEMBAHASAN
·
Pengertian
perekoonomian empat sektor.........................................
2
·
Faktor-faktor yang
menentukan ekspor dan impor..........................
3
·
Perhitungan
pendapatana nasional dalam perekonomian empat sektor 5
·
Perekonomian empat
sektor dalam islam.........................................
5
BAB
III PENUTUP
Kesimpulan......................................................................................
8
DAFTAR
PUSTAKA...............................................................................
9
BAB
I
PENDAHULUAN
· Latar belakang masalah
Dalam
analisis pendapatan nasional, terdapat beberapa sektor ekonomi yang menjadi
ukuranya. Salah satunya yaitu perekonomian empat sektor. Perekonomian empat
sektor dapat disebut juga dengan perekonomian terbuka. Pasa sistem perekonomian
terbuka, terdapat empat sektor pelaku ekonomi yaitu : sektor rumah tangga,
sektor perusahaan, sektor pemerintah dan sektor luar negeri. perekonomian empat
sektor adalah suatu sistem ekonomi yang melakukan kegiatan ekspor dan impor
dengan negara-negara lain di dunia ini.
· Rumusan masalah
1. Apakah
yang dimaksud dengan perekonomian empat sektor?
2. Apa
faktor-faktor yang menentukan ekspor impor?
3. Bagaimanakah
perhitungan pendapatan nasional dalam perekonomian empat sektor?
4. Apakah
yang dimaksud dengan perekonomian empat sektor dalam islam?
·
Tujuan
1. Mengetahui
apa yang dimaksud dengan perekonomian empat sektor
2. Mengetahui
faktor- faktor yang menentukan ekspor dan impor
3. Mengetahui
bagaimana perhitungan pendapatan nasional dalam perekonomian empat sektor
4. Mengetahui
perekonomian empat sektor dalam islam
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
perekonomian empat sektor
Perekonomian
terbuka atau perekonomian empat sektor adalah suatu sistem ekonomi yang
melakukan kegiatan ekspor dan impor dengan negara-negara lain di dunia ini.
Dalam perekonomian terbukan, sektor-sektornya dibedakan menjadi empat golongan
yaitu: rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan luar negeri. [1]
Ekspor diartikan
sebagai pengiriman dan penjualan barang-barang buatan dalam negeri ke
negara-negara lain. Pengiriman ini akan menimbulkan aliran pengeluaran yang
masuk ke sektor perusahaan. Dengan demikian pengeluaran agregat akan meningkat
sebagai akibat dari kegiatan mengekspor barang dan jasa dan pada akhirnya
keadaan ini akan menyebabkan peningkatan dalam pendapatan nasioanal.
Impor merupakan pembelian dan pemasukan barang dari luar
negeri ke dalam suatu perekonomian. Aliran barang ini akan menumbulkan aliran
keluar atau bocoran dari aliran pengeluaran dari sektor rumah tangga ke sektor
perusahaan. Aliran keluar atau bocoran ini pada akhirnya akan menurunkan
pendapatan nasional yang dapat dicapai.
Dengan
demikian, sejauh mana ekspor dan impor mempengaruhi keseimbangan pendapatan
nasional tergantung kepada ekspor neto yaitu ekspor dikurangi impor. Apabila
ekspor neto adalah positif, pengeluaran agregat dalam ekonomi akan bertambah.
Keadaan ini akan meningkatkan pendapatan nasional dan kesempatan kerja. [2]
Komponen
pengeluaran agregast
Dalam ekonomi terbuka,
pengeluaran agregat meliputi lima jenis pengeluaran :
1. Pengeluaran
konsumsi rumah tangga ke atas barang-barang yang dihasilkan di dalam negeri (Cdn)
2. Investasi
perusahaan (I) untuk menambah kapasitas sektor perusahaan menghasilkan barang
dan jasa
3. Pengeluaran
pemerintah ke atas barang dan jasa yang diperoleh di dalam negeri (G)
4. Ekspor,
yaitu pembelian negara lain ke atas barang buatan perusahaan-perusahaan di
dalam negeri (X)
5. Barang
impor, yaitu batang yang dibeli dari luar negeri (M)
Dengan demikian,
komponen pengeluaran agregat dalam ekonomi terbuka adalah : pengeluaran
rumah tangga ke atas barang buatan dalam
negeri, investasi, pengeluaran pemerintah, pengeluaran ke atas barang impor dan
pengeluaran orang luar negeri ke atas barang buatan dalam negeri (ekspor).
Pengeluaran tersebut (AE) dapat dinyatakan dengan menggunakan formula berikut:
|
AE
= Cdn + I + G + X + M
|
B.
Faktor-
faktor yang menentukan ekspor dan impor
1.
Faktor-
faktor yang menentukan ekspor
Suatu
negara dapat mengekspor barang produksinya ke negara lain, apabila barang
tersebut diperlukan oleh negara lain dan mereka tidak dapat memproduksi barang
tersebut atau produksinya tidak dapat memenuhi keperluan dalam negeri.ekspor
karet, kelapa sawit, petrolium dari beberapa negara asia tenggara berlaku oleh
karena barang-barang tersenut dibeli oleh negara-negara yang tidak dapat
memproduksinya. Sebaliknya pula, negara-negara Asia Tenggara mengimpor pesawat,
dan berbagai jenis barang modal oleh karena mereka tidak dapat menghasilkan
sendiri barang-barang tersebut.
Faktor yang lebih
penting lagi adalah kemampuan dari
negara-negara tersebut untuk mengeluarkan barang- barang yang dapat bersaing
dalam pasaran luar negeri. maksudnya, mutu dan harga barang
yang diekspor tersebut haruslah sama baiknya dengan yang diperjual belikan di
pasaran luar negeri.[3]
2.
Faktor-faktor
yang menentukan impor
Barang buatan luar negeri juga diimpor oleh sektor
lain, yaitu oleh perusahaan dan
pemerintah. Perusahaan mengimpor bahan mentah dan barang modal dari luar
negeri. pemerintah juga melaksanakan hal yang sama,yaitu pemerintah menggunakan
barang konsumsi dan barang modal yang diimpor.
Walau
bagaimanapun dalam analisis makroekonomi diasumsikan bahwa impor terutama
dilakukan oleh rumah tangga. Maka fungsi impor sangat berhubungan dengan
pendapatan nasional. Yang dimaksud dengan impor adalah kurva yang menggambarkan
hubungan di antara nilai impor yang dilakukan dengan tingkat pendapatan
masyarakat dan pendapatan nasional yang di capai. Impor adalah pengeluaran
terpengaruh yang berarti makin tinggi pendapatan nasional maka semakin tinggi
pula impor. Oleh sebab itu fungsi impor menanjak ke sebelah kanan. [4]
|
Fungsi Impor
|
|
Pendapatan nasional
|
Dua
pendekatan dapat digunakan untuk menggambarkan fungsi impor. Pertama, dapat
dimisalkan nilai impor adalah proporsional dengan pendapatan nasional, maka
persamaan fungsi impor adalah M = m Y
dimana m menggambarkan tingkat perubahan impor akibat dari perubahan pendapatan
masyarakat dan pendapatan nasional. Seterusnya dapat dimisalkan sebagian dari
impor tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional (misalnya pengusaha membeli
barang modal dari luar negeri tidak tergantung kepada pendapatan nasional)
apabila hal seperti ini dipertimbangkan fungsi impor haruslah digambarkan oleh
fungsi M = M0 + mY,
dimana M0 merupakan nilai impor yang tidak dipengaruhi oleh
pendapatan nasional. Dalam permisalan seperti ini formula fungsi impor akan
dinyatakan dengan menggunakan persamaan M= M0 + mY.
C.
Perhitungan
Pendapatan Nasional Perekonomian Empat Sektor
Perhitungan
pendapatan nasional (Y) dengan pendekatan pengeluaran pada perekonomian terbuka
dilakukan dengan menjumlahkan permintaan akhir unit-unit ekonomi, yaitu :
1. Rumah
tangga berupa konsumsi (consumption/ C)
2. Perusahaan
berupa investasi (investment/I)
3. Pengeluaran
pemerintas (government/G)
4. Pengeluaran
ekspor dan impor (ekspor-impor /X-M)[5]
|
Y = C + I + G + X -
M
|
D.
Perkonomian
empat sektor dalam islam
Dalam
perspektif ekonomi islam, terdapat beberapa perbedaan dalam aktifitas ekonomi
dengan ekonomi konvensional, salah satunya adalah dalam sistem ekonomi islam
menggunakan parameter falah, yaitu kesejahteraan dunia dan akhirat [6].
Sejahtera dunia diartikan sebagai segala yang memberikan kenikmatan hidup
indrawi, baik fisik, intelektual, biologis maupun material. Sedangkan
kesejahteraan akhirat yaitu sebagai kenikmatan yang diperoleh setelah kematian
manusia, menurut Imam Al-Ghazali termasuk meningkatkan kesejahteraan dengan
tetap menjaga keimanan, kehidupan, intelektualitas, kekayaan, dan kepemilikan.[7]
Perilaku manusia di dunia diyakini akan berpengaruh terhadap kesejahteraan
akhirat yang abadi.
Sektor
rumah tangga memperoleh pendapatan dari sektor perusahaan berupa upah (ijarah)
dan bagi hasil. Memperoleh upah dari hasil tenaga kerja dan memperoleh bagi
hasil dari investasi. Investasi dapat berupa akad mudharabah atau musyarokah
dengan pihak perusahaan. Adapun pengeluaran sektor rumah yang tidak dapat dipungkiri
lagi adalahbkonsumsi, dimana konsimsi merupakan salah satu faktor yang
memengaruhi pendapatan nasional dan pengeluaran yang lainya seperti pajak,
zakat, infak, dan shodaqoh yang dimana di dalam ekonomi konvensional sama
sekali tidak dimasukan sebagai faktor yang memengaruhi pendapatan.
Adapun,
sektor perusahaan memperoleh pendapatan dari hasil penjualan barang-barang yang
telah diproduksi yang merupakan pengeluaran dari sektor rumah tangga yntuk
konsumsi menjadi pendapatan pada sektor perusahaan, pendapatan lainya berupa
bagi hasil dengan pihak investor dan pendapatan dari ekspor dan impor
barang/jasa.
Pada
masa kenabian, dan kekhalifahan setelahnya, kaum muslimin cukup berpengalaman
dalam menerapkan beberapa instrumen sebahai kebijakan fiskal, yang diselenggarakan
pada lembaga baitulmal ( national
treasury). Dari berbagai macam instrumen, pajak diterapkan atas individu (jizyah dan pajak khusus muslim), tanah kharaj
dan ushur (cukai) atas barang impor
dari negara yang mengenakan cukai terhadap pedagang kaum muslimin, sehingga
tidak memberikan beban ekonomi yang berat bagi masyarakat. Pada saat
perekonomian sedang krisis yang membawa dampat terhadap keuangan negara karena
sumber-sumber penerimaan terutama pajak merosot seiring dengan merosotnya
aktivitas ekonomi maka kewajiban kewajiban tersebut beralih kepada kaum muslim.
Semisal krisis ekonomi yang menyebabkan warga negara jatuh miskin otomatis
mereka tidak dikenai pajak baik jizyah maupun
pajak atas seorang muslim, sebaliknya mereka akan disantuni negara dengan biaya
yang diambil dari orang-orang muslim kaya.
Dalam
fikih zakat menyebutkan bahwa sistem zakat berusaha untuk mempertemukan pihak
surplus muslim dengan pihak defisit muslim. Hal ini dengan harapan terjadi
proyeksi pemerataan pendapatan antara surplus dan defisit muslim atau bahkan
menjadikan kelompok yang defisit (mustahik)
menjadi surplus (muzzaki).
Zakat
sendiri bukanlah satu kegiatan yang semata-mata untuk tujuan duniawi, seperti
distribusi pendapatan, stabilitas ekonomi lainya, tetapi juga mempunyai
implikasi untuk kehidupan di akhirat. Hal inilah yang membedakan kebujakan
fiskal dalam islam dan kebijakan fiskal dalam sistem ekonomi pasar.[8]
103. ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu
kamu membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah
Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
[658] Maksudnya: zakat
itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada
harta benda
[659] Maksudnya: zakat
itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan
harta benda mereka.
Terkait dengan dampak
zakat terhadap aggregate output
khususnya dengan pendekatan expenditure dapat
dijelaskan pandangan dari Yusoff sebagai berikut, dari sudut pandang expenditure pendapatan nasional dapat
dituliaskan dengan persamaan sebagai berikut :
Y
= C1 + C2 + I + G
Dimana :
C = C1 + C2
C = pengeluaran konsumsi rumah tangga
C1 = konsuumsi individu yang membayar zakat (muzakki)
C2 = Konsumsi dari penerima zakat (mustahik)
Jika ditinjau dengan pendekatan pendapatan, maka
diperoleh persamaan sebagai berikut :
Y
= C1 + S + Z + T
Dimana :
Z =
Zakat
T =
Pajak / Tax
S = saving[9]
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Perekonomian
terbuka atau perekonomian empat sektor adalah suatu sistem ekonomi yang
melakukan kegiatan ekspor dan impor dengan negara-negara lain di dunia ini.
Dalam perekonomian terbukan, sektor-sektornya dibedakan menjadi empat golongan
yaitu: rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan luar negeri.
Faktor
yang menentukan ekspor yaitu, Suatu negara dapat mengekspor barang produksinya
ke negara lain, apabila barang tersebut diperlukan oleh negara lain dan mereka
tidak dapat memproduksi barang tersebut atau produksinya tidak dapat memenuhi
keperluan dalam negeri.
Barang
buatan luar negeri juga diimpor oleh sektor lain, yaitu oleh perusahaan dan pemerintah. Perusahaan
mengimpor bahan mentah dan barang modal dari luar negeri. pemerintah juga
melaksanakan hal yang sama,yaitu pemerintah menggunakan barang konsumsi dan
barang modal yang diimpor.
Daftar
Pustaka
Huda, Nurul. 2007. Ekonomi Makro Islam. Prenamedia Group:
Jakarta.
Sukirno, Sadono. 2004. Makroekonomi edisi ketiga. PT. Raja
Grafindo Persada: Jakarta.
Sukirno, Sadono. 1994. Makroekonomi edisi kedua. PT. Raja
Grafindo Persada: Jakarta.
Universitas Islam
Indonesia Yogyakarta. Ekonomi Islam.
PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
[1] Sadono
sukirno, makroekonomi edisi ketiga (rajawali pres; jakarta 2004 ) hlm. 202
[2] Ibid hlm
203
[3] Sadono sukirno, makroekonomi
edisi ketiga (rajawali pres; jakarta 2004 ) hlm. 205
[4] Sadono sukirno, makroekonomi
edisi ketiga (rajawali pres; jakarta 2004 ) hlm. 207
[5] Nurul huda. Ekonomi makro islam (prenamedia grup : jakarta ) hlm 24
[6] Pusat pengkajian dan
pengembangan ekonomi islam UII. ekonomi
islam (PT. Raja Grafindo: Jakarta ) hlm 2
[7] Nurul huda. Ekonomi makro islam (prenamedia grup : jakarta ) hlm 63
[8] Nurul huda. Ekonomi makro islam (prenamedia grup : jakarta ) hlm 64
[9] Nurul huda. Ekonomi makro islam (prenamedia grup : jakarta ) hlm 64
Tidak ada komentar:
Posting Komentar