Kamis, 09 November 2017

perekonomian empat sektor

PEREKONOMIAN EMPAT SEKTOR
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Makroekonomi
Dosen Pengampu :  Annas Malik S.EI., M.Sy.


Disusun oleh:

Tri Juliya Utari            1651010272
Kelas C Semester III




FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
UIN RADEN INTAN LAMPUNG
2017






KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis haturkan kepada Allah swt, atas rahmat dan hidayah nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Perekonomian Empat Sektor”
            Sholawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, yang syafaatnya kita nantikan di yaumul qiyamah. 
            Kami menyadari makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kami megharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi pemyempurnaan makalah ini. semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


Bandar Lampung,   November 2017



                         Penyusun


DAFTAR ISI


COVER ......................................................................................................  
KATA PENGANTAR.............................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
·         Latar Belakang ................................................................................  1
·         Rumusan Masalah............................................................................ 1
·         Tujuan.............................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
·         Pengertian perekoonomian empat sektor......................................... 2
·         Faktor-faktor yang menentukan ekspor dan impor.......................... 3
·         Perhitungan pendapatana nasional dalam perekonomian empat sektor          5
·         Perekonomian empat sektor dalam islam......................................... 5
BAB III PENUTUP
Kesimpulan...................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 9



BAB I
PENDAHULUAN

·      Latar belakang masalah
Dalam analisis pendapatan nasional, terdapat beberapa sektor ekonomi yang menjadi ukuranya. Salah satunya yaitu perekonomian empat sektor. Perekonomian empat sektor dapat disebut juga dengan perekonomian terbuka. Pasa sistem perekonomian terbuka, terdapat empat sektor pelaku ekonomi yaitu : sektor rumah tangga, sektor perusahaan, sektor pemerintah dan sektor luar negeri. perekonomian empat sektor adalah suatu sistem ekonomi yang melakukan kegiatan ekspor dan impor dengan negara-negara lain di dunia ini.

·      Rumusan masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan perekonomian empat sektor?
2.      Apa faktor-faktor yang menentukan ekspor impor?
3.      Bagaimanakah perhitungan pendapatan nasional dalam perekonomian empat sektor?
4.      Apakah yang dimaksud dengan perekonomian empat sektor dalam islam?


·           Tujuan
1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan perekonomian empat sektor
2.      Mengetahui faktor- faktor yang menentukan ekspor dan impor
3.      Mengetahui bagaimana perhitungan pendapatan nasional dalam perekonomian empat sektor
4.      Mengetahui perekonomian empat sektor dalam islam





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian perekonomian empat sektor
Perekonomian terbuka atau perekonomian empat sektor adalah suatu sistem ekonomi yang melakukan kegiatan ekspor dan impor dengan negara-negara lain di dunia ini. Dalam perekonomian terbukan, sektor-sektornya dibedakan menjadi empat golongan yaitu: rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan luar negeri. [1]
            Ekspor diartikan sebagai pengiriman dan penjualan barang-barang buatan dalam negeri ke negara-negara lain. Pengiriman ini akan menimbulkan aliran pengeluaran yang masuk ke sektor perusahaan. Dengan demikian pengeluaran agregat akan meningkat sebagai akibat dari kegiatan mengekspor barang dan jasa dan pada akhirnya keadaan ini akan menyebabkan peningkatan dalam pendapatan nasioanal.
            Impor merupakan pembelian dan pemasukan barang dari luar negeri ke dalam suatu perekonomian. Aliran barang ini akan menumbulkan aliran keluar atau bocoran dari aliran pengeluaran dari sektor rumah tangga ke sektor perusahaan. Aliran keluar atau bocoran ini pada akhirnya akan menurunkan pendapatan nasional yang dapat dicapai.
Dengan demikian, sejauh mana ekspor dan impor mempengaruhi keseimbangan pendapatan nasional tergantung kepada ekspor neto yaitu ekspor dikurangi impor. Apabila ekspor neto adalah positif, pengeluaran agregat dalam ekonomi akan bertambah. Keadaan ini akan meningkatkan pendapatan nasional dan kesempatan kerja. [2]
Komponen pengeluaran agregast
Dalam ekonomi terbuka, pengeluaran agregat meliputi lima jenis pengeluaran :
1.      Pengeluaran konsumsi rumah tangga ke atas barang-barang yang dihasilkan di dalam negeri (Cdn)
2.      Investasi perusahaan (I) untuk menambah kapasitas sektor perusahaan menghasilkan barang dan jasa
3.      Pengeluaran pemerintah ke atas barang dan jasa yang diperoleh di dalam negeri (G)
4.      Ekspor, yaitu pembelian negara lain ke atas barang buatan perusahaan-perusahaan di dalam negeri (X)
5.      Barang impor, yaitu batang yang dibeli dari luar negeri (M)
Dengan demikian, komponen pengeluaran agregat dalam ekonomi terbuka adalah : pengeluaran rumah  tangga ke atas barang buatan dalam negeri, investasi, pengeluaran pemerintah, pengeluaran ke atas barang impor dan pengeluaran orang luar negeri ke atas barang buatan dalam negeri (ekspor). Pengeluaran tersebut (AE) dapat dinyatakan dengan menggunakan formula berikut:
AE = Cdn + I + G + X + M

 


B.     Faktor- faktor yang menentukan ekspor dan impor
1.      Faktor- faktor yang menentukan ekspor
Suatu negara dapat mengekspor barang produksinya ke negara lain, apabila barang tersebut diperlukan oleh negara lain dan mereka tidak dapat memproduksi barang tersebut atau produksinya tidak dapat memenuhi keperluan dalam negeri.ekspor karet, kelapa sawit, petrolium dari beberapa negara asia tenggara berlaku oleh karena barang-barang tersenut dibeli oleh negara-negara yang tidak dapat memproduksinya. Sebaliknya pula, negara-negara Asia Tenggara mengimpor pesawat, dan berbagai jenis barang modal oleh karena mereka tidak dapat menghasilkan sendiri barang-barang tersebut.
Faktor yang lebih penting lagi adalah kemampuan  dari negara-negara tersebut untuk mengeluarkan barang- barang yang dapat bersaing dalam pasaran luar negeri. maksudnya, mutu dan harga barang yang diekspor tersebut haruslah sama baiknya dengan yang diperjual belikan di pasaran luar negeri.[3]

2.      Faktor-faktor yang menentukan impor


.
Barang buatan luar negeri juga diimpor oleh sektor lain, yaitu  oleh perusahaan dan pemerintah. Perusahaan mengimpor bahan mentah dan barang modal dari luar negeri. pemerintah juga melaksanakan hal yang sama,yaitu pemerintah menggunakan barang konsumsi dan barang modal yang diimpor.
Walau bagaimanapun dalam analisis makroekonomi diasumsikan bahwa impor terutama dilakukan oleh rumah tangga. Maka fungsi impor sangat berhubungan dengan pendapatan nasional. Yang dimaksud dengan impor adalah kurva yang menggambarkan hubungan di antara nilai impor yang dilakukan dengan tingkat pendapatan masyarakat dan pendapatan nasional yang di capai. Impor adalah pengeluaran terpengaruh yang berarti makin tinggi pendapatan nasional maka semakin tinggi pula impor. Oleh sebab itu fungsi impor menanjak ke sebelah kanan. [4]
Fungsi Impor
                     M

                                                            M = M0 + mY

Pendapatan nasional
                                                                                M = mY




Dua pendekatan dapat digunakan untuk menggambarkan fungsi impor. Pertama, dapat dimisalkan nilai impor adalah proporsional dengan pendapatan nasional, maka persamaan fungsi impor adalah M = m Y dimana m menggambarkan tingkat perubahan impor akibat dari perubahan pendapatan masyarakat dan pendapatan nasional. Seterusnya dapat dimisalkan sebagian dari impor tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional (misalnya pengusaha membeli barang modal dari luar negeri tidak tergantung kepada pendapatan nasional) apabila hal seperti ini dipertimbangkan fungsi impor haruslah digambarkan oleh fungsi M = M0 + mY, dimana M0 merupakan nilai impor yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional. Dalam permisalan seperti ini formula fungsi impor akan dinyatakan dengan menggunakan persamaan M= M0 + mY.
C.    Perhitungan Pendapatan Nasional Perekonomian Empat Sektor
Perhitungan pendapatan nasional (Y) dengan pendekatan pengeluaran pada perekonomian terbuka dilakukan dengan menjumlahkan permintaan akhir unit-unit ekonomi, yaitu :
1.      Rumah tangga berupa konsumsi (consumption/ C)
2.      Perusahaan berupa investasi (investment/I)
3.      Pengeluaran pemerintas (government/G)
4.      Pengeluaran ekspor dan impor (ekspor-impor /X-M)[5]
 Y = C + I + G + X - M
 


D.    Perkonomian empat sektor dalam islam
Dalam perspektif ekonomi islam, terdapat beberapa perbedaan dalam aktifitas ekonomi dengan ekonomi konvensional, salah satunya adalah dalam sistem ekonomi islam menggunakan parameter falah, yaitu kesejahteraan dunia dan akhirat [6]. Sejahtera dunia diartikan sebagai segala yang memberikan kenikmatan hidup indrawi, baik fisik, intelektual, biologis maupun material. Sedangkan kesejahteraan akhirat yaitu sebagai kenikmatan yang diperoleh setelah kematian manusia, menurut Imam Al-Ghazali termasuk meningkatkan kesejahteraan dengan tetap menjaga keimanan, kehidupan, intelektualitas, kekayaan, dan kepemilikan.[7] Perilaku manusia di dunia diyakini akan berpengaruh terhadap kesejahteraan akhirat yang abadi.
Sektor rumah tangga memperoleh pendapatan dari sektor perusahaan berupa upah (ijarah) dan bagi hasil. Memperoleh upah dari hasil tenaga kerja dan memperoleh bagi hasil dari investasi. Investasi dapat berupa akad mudharabah atau musyarokah dengan pihak perusahaan. Adapun pengeluaran sektor rumah yang tidak dapat dipungkiri lagi adalahbkonsumsi, dimana konsimsi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi pendapatan nasional dan pengeluaran yang lainya seperti pajak, zakat, infak, dan shodaqoh yang dimana di dalam ekonomi konvensional sama sekali tidak dimasukan sebagai faktor yang memengaruhi pendapatan.
Adapun, sektor perusahaan memperoleh pendapatan dari hasil penjualan barang-barang yang telah diproduksi yang merupakan pengeluaran dari sektor rumah tangga yntuk konsumsi menjadi pendapatan pada sektor perusahaan, pendapatan lainya berupa bagi hasil dengan pihak investor dan pendapatan dari ekspor dan impor barang/jasa.
Pada masa kenabian, dan kekhalifahan setelahnya, kaum muslimin cukup berpengalaman dalam menerapkan beberapa instrumen sebahai kebijakan fiskal, yang diselenggarakan pada lembaga baitulmal ( national treasury). Dari berbagai macam instrumen, pajak diterapkan atas individu (jizyah dan pajak khusus muslim), tanah kharaj dan ushur (cukai) atas barang impor dari negara yang mengenakan cukai terhadap pedagang kaum muslimin, sehingga tidak memberikan beban ekonomi yang berat bagi masyarakat. Pada saat perekonomian sedang krisis yang membawa dampat terhadap keuangan negara karena sumber-sumber penerimaan terutama pajak merosot seiring dengan merosotnya aktivitas ekonomi maka kewajiban kewajiban tersebut beralih kepada kaum muslim. Semisal krisis ekonomi yang menyebabkan warga negara jatuh miskin otomatis mereka tidak dikenai pajak baik jizyah maupun pajak atas seorang muslim, sebaliknya mereka akan disantuni negara dengan biaya yang diambil dari orang-orang muslim kaya.
Dalam fikih zakat menyebutkan bahwa sistem zakat berusaha untuk mempertemukan pihak surplus muslim dengan pihak defisit muslim. Hal ini dengan harapan terjadi proyeksi pemerataan pendapatan antara surplus dan defisit muslim atau bahkan menjadikan kelompok yang defisit (mustahik) menjadi surplus (muzzaki).
Zakat sendiri bukanlah satu kegiatan yang semata-mata untuk tujuan duniawi, seperti distribusi pendapatan, stabilitas ekonomi lainya, tetapi juga mempunyai implikasi untuk kehidupan di akhirat. Hal inilah yang membedakan kebujakan fiskal dalam islam dan kebijakan fiskal dalam sistem ekonomi pasar.[8]

103. ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

[658] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda
[659] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.
Terkait dengan dampak zakat terhadap aggregate output khususnya dengan pendekatan expenditure dapat dijelaskan pandangan dari Yusoff sebagai berikut, dari sudut pandang expenditure pendapatan nasional dapat dituliaskan dengan persamaan sebagai berikut :
Y = C1 + C2 + I + G
Dimana :
C         =  C1 + C2
C         =  pengeluaran konsumsi rumah tangga
C1        =  konsuumsi individu yang membayar zakat (muzakki)
C2        =  Konsumsi dari penerima zakat (mustahik)
Jika ditinjau dengan pendekatan pendapatan, maka diperoleh persamaan sebagai berikut :
Y = C1 + S + Z + T
Dimana :
Z          = Zakat
T          = Pajak / Tax
S          = saving[9]
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Perekonomian terbuka atau perekonomian empat sektor adalah suatu sistem ekonomi yang melakukan kegiatan ekspor dan impor dengan negara-negara lain di dunia ini. Dalam perekonomian terbukan, sektor-sektornya dibedakan menjadi empat golongan yaitu: rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan luar negeri.
Faktor yang menentukan ekspor yaitu, Suatu negara dapat mengekspor barang produksinya ke negara lain, apabila barang tersebut diperlukan oleh negara lain dan mereka tidak dapat memproduksi barang tersebut atau produksinya tidak dapat memenuhi keperluan dalam negeri.
Barang buatan luar negeri juga diimpor oleh sektor lain, yaitu  oleh perusahaan dan pemerintah. Perusahaan mengimpor bahan mentah dan barang modal dari luar negeri. pemerintah juga melaksanakan hal yang sama,yaitu pemerintah menggunakan barang konsumsi dan barang modal yang diimpor.

Daftar Pustaka

Huda, Nurul. 2007. Ekonomi Makro Islam. Prenamedia Group: Jakarta.
Sukirno, Sadono. 2004. Makroekonomi edisi ketiga. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Sukirno, Sadono. 1994. Makroekonomi edisi kedua. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Ekonomi Islam. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.



[1] Sadono sukirno, makroekonomi edisi ketiga (rajawali pres; jakarta 2004 ) hlm. 202
[2] Ibid hlm 203
[3] Sadono sukirno, makroekonomi edisi ketiga (rajawali pres; jakarta 2004 ) hlm. 205
[4] Sadono sukirno, makroekonomi edisi ketiga (rajawali pres; jakarta 2004 ) hlm. 207
[5] Nurul huda. Ekonomi makro islam (prenamedia grup : jakarta ) hlm 24
[6] Pusat pengkajian dan pengembangan ekonomi islam UII. ekonomi islam (PT. Raja Grafindo: Jakarta ) hlm 2
[7] Nurul huda. Ekonomi makro islam (prenamedia grup : jakarta ) hlm 63
[8] Nurul huda. Ekonomi makro islam (prenamedia grup : jakarta ) hlm 64
[9] Nurul huda. Ekonomi makro islam (prenamedia grup : jakarta ) hlm 64

Tidak ada komentar:

Posting Komentar